Alunan lambat khas musik jaz seperti semakin semu dan menjauh. Seolah ada benteng yang terbangun antara maya khayalnya dan suasana nyata. Matanya terus saja mengiringi langkah gadis itu satu per satu. Setiap langkah berlalu menciptakan jarak yang semakin jauh. Seperti sebuah isyarat pergi tanpa janji untuk kembali.
“Ada
dua wanita dalam hidupku...” kalimat itu kembali terulang dalam kepalanya. Saat
itu keadaan sangat berbeda. Gadis itu duduk di sebelahnya sambil sesekali
menyibakkan rambutnya. Waktu itu senja. Angin berhembus menerpa ke arah mereka,
langit berwarna jingga dan matahari seperti bola merah raksasa yang perlahan
terbenam di peraudannya.
Gadis
itu menoleh ke arahnya. Beberapa helai rambut kembali tertiup angin dan berkibar
di wajahnya. Dia masih menunggu kelanjutan kalimat yang belum utuh didengarnya.
Pria itu tersenyum lalu, “Teman dan bukan teman.” Katanya. Gadis itu
mengernyitkan dahi.
Langkah
itu semakin jauh. Sedangkan pria itu masih diam mengamati. Satu dua kali pintu kafe terbuka dan tertutup
kembali. Tak seperti biasanya, pengunjung kafe itu cukup sepi malam ini.
“Dan sekarang aku justru ragu atas definisi
yang kubuat sendiri.” Gumam pria itu dalam hati. Matanya masih mengiringi
langkah itu pergi. Pikirannya seperti dipenuhi oleh sesuatu, tapi di sisi lain
juga terasa sangat kosong. Entahlah. Hatinya juga menjadi geram. Semakin jauh
gadis itu melangkahkan kaki, rasanya semakin akan meledak sesuatu yang ditahannya
sejak tadi.
Selintas
garis senyum gadis itu terbesit di kepalanya. Cara gadis itu tertawa untuk
lelucon-lelucon yang dibuatnya, bagaimana ekpresi gadis itu setiap kali ia
bercerita, momen-momen saat mereka sering kali melakukan banyak hal bersama.
Pria itu seperti semakin dipermainkan oleh kebingungannya sendiri.
Tap!
Tap! Tap!
“Bukan. Tentu saja tidak mungkin. Ini
hanyalah kebingungan yang akan hilang dalam satu dua hari.” gadis itu
tersenyum tipis meyakinkan diri dalam hati.
“Aku
mencintaimu, Tania.” Kata pria itu beberapa saat lalu. Suaranya terdengar
sedikit bergetar dan tak biasa.
Lalu
diam.
Tania
lurus menatap pria itu. Tersenyum. Getir. Dia tak butuh waktu banyak untuk bisa
kembali mengingat apa yang tak pernah bisa dilupakannya. Rasa sakit.
“Dann...”
Diam
lagi. Gadis itu sangat tau bagaimana menjelaskan semuanya, hanya saja tak ada
kata yang tepat untuk mewakilinya.
“Tania...”
pria itu mengenggam tangan Tania. “Tentang rasa sakit itu...”
“Daniel...”
Tania menarik tangannya. “Jika memang aku tak bisa melupakannya, aku hanya
tidak ingin mengingatnya. Itu saja.” Katanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar