Selasa, 19 September 2017

#1. SEBUAH ISYARAT PERGI

      Alunan lambat khas musik jaz seperti semakin semu dan menjauh. Seolah ada benteng yang terbangun antara maya khayalnya dan suasana nyata. Matanya terus saja mengiringi langkah gadis itu satu per satu. Setiap langkah berlalu menciptakan jarak yang semakin jauh. Seperti sebuah isyarat pergi tanpa janji untuk kembali.
https://paperspensandperidot.files.wordpress.com
          “Ada dua wanita dalam hidupku...” kalimat itu kembali terulang dalam kepalanya. Saat itu keadaan sangat berbeda. Gadis itu duduk di sebelahnya sambil sesekali menyibakkan rambutnya. Waktu itu senja. Angin berhembus menerpa ke arah mereka, langit berwarna jingga dan matahari seperti bola merah raksasa yang perlahan terbenam di peraudannya.
          Gadis itu menoleh ke arahnya. Beberapa helai rambut kembali tertiup angin dan berkibar di wajahnya. Dia masih menunggu kelanjutan kalimat yang belum utuh didengarnya. Pria itu tersenyum lalu, “Teman dan bukan teman.” Katanya. Gadis itu mengernyitkan dahi.
          Langkah itu semakin jauh. Sedangkan pria itu masih diam mengamati. Satu  dua kali pintu kafe terbuka dan tertutup kembali. Tak seperti biasanya, pengunjung kafe itu cukup sepi malam ini.
         “Dan sekarang aku justru ragu atas definisi yang kubuat sendiri.” Gumam pria itu dalam hati. Matanya masih mengiringi langkah itu pergi. Pikirannya seperti dipenuhi oleh sesuatu, tapi di sisi lain juga terasa sangat kosong. Entahlah. Hatinya juga menjadi geram. Semakin jauh gadis itu melangkahkan kaki, rasanya semakin akan meledak sesuatu yang ditahannya sejak tadi.
         Selintas garis senyum gadis itu terbesit di kepalanya. Cara gadis itu tertawa untuk lelucon-lelucon yang dibuatnya, bagaimana ekpresi gadis itu setiap kali ia bercerita, momen-momen saat mereka sering kali melakukan banyak hal bersama. Pria itu seperti semakin dipermainkan oleh kebingungannya sendiri.
          Tap! Tap! Tap!
        “Bukan. Tentu saja tidak mungkin. Ini hanyalah kebingungan yang akan hilang dalam satu dua hari.” gadis itu tersenyum tipis meyakinkan diri dalam hati.
          “Aku mencintaimu, Tania.” Kata pria itu beberapa saat lalu. Suaranya terdengar sedikit bergetar dan tak biasa.
          Lalu diam.
       Tania lurus menatap pria itu. Tersenyum. Getir. Dia tak butuh waktu banyak untuk bisa kembali mengingat apa yang tak pernah bisa dilupakannya. Rasa sakit.
          “Dann...”
        Diam lagi. Gadis itu sangat tau bagaimana menjelaskan semuanya, hanya saja tak ada kata yang tepat untuk mewakilinya.
          “Tania...” pria itu mengenggam tangan Tania. “Tentang rasa sakit itu...”
    “Daniel...” Tania menarik tangannya. “Jika memang aku tak bisa melupakannya, aku hanya tidak ingin mengingatnya. Itu saja.” Katanya.